Kedai “KaYe” Komisi Yudisial Hadir Dengan Nuansa Beda

oleh -56 views
Link Banner

Porostimur.com | Ambon: Kantor Penghubung Komisi Yudisial (PKY) Maluku terlihat berbeda dengan kantor lainnya, sebab disana terdapat sebuah Kedai yang dibuka sejak bulan Januari tahun 2021, dan diberi nama “KaYe”. Nama tersebut diambil dari nama kantornya Komisi Yudisial. Pemiliknya, Chisalvia Hatala, adalah seorang pegawai negeri yang bertugas dibidang sosialisasi lembaga pada kantor tersebut.

Saat ditemui Porostimur.com, Ahad (25/4/2021) di kantornya, Hatala mengatakan, Kedai “KaYe” hadir dengan nuansa beda, juga sebagai wadah untuk mensosialisasikan kantor PKY kepada masyarakat yang belum mengetahui dan membutuhkan peran Komisi Yudisial dalam hal melaporkan berbagai masalah atau ketimpangan yang terjadi dalam peradilan di Maluku.

“Saya di kantor PKY dan bertugas di bidang sosialisasi lembaga, sekaligus juga mengurus jejaring. Dalam hal mengurus jejaring tersebut tentunya membutuhkan budget anggaran yang lumayan besar, sementara dari kantor tidak ada pembiyaan untuk membangun jejaring tersebut, jadi mau tak mau saya harus berpikir untuk membuka usaha kedai sebagai penunjang untuk biaya tambahan, disamping menjalankan tugas-tugas kantor, dan ternyata sangat membantu sekali”, katanya.

Baca Juga  Celoteh tentang Rumus Berita

Sejak dibuka Kedai “KaYe” tersebut, menurut Chisalvia, orang seringkali buat kegiatan-kegiatan berupa kajian, aksi sosial seperti galang dana dan aktivitas umum lainnya oleh para aktivis atau komunitas di kota Ambon.

Link Banner

“Kami menyediakan tempat secara gratis dan menerima siapapun yang ingin melaksanakan kegiatan disini, selama untuk kebaikan bersama, misalnya diskusi, galang dana, pentas seni, dan sebagainya.” ungkap Chisalvia.

Sebagai owner Kedai “KaYe”, Chisalvia memberlakukan syarat-syarat jika ada masyarakat yang ingin menggunakan tempat untuk kegiatan.

“Sejauh ini kami memberikan kesempatan kepada siapa saja untuk melakukan kegiatan secara gratis di Kedai “Kaye” dengan syarat pengunjung tidak diizinkan membawa makanan dan minuman dari luar, sehingga transaksi penjualan di dalam kedai tetap ada,” katanya.

Kedai “KaYe” mempunyai 3 (tiga) orang pekerja yang merupakan anggota jejaring KY, mereka ingin menambah pengalaman, sekaligus menambah kebutuhan finansialnya.

Baca Juga  Tingkatkan kapasitas, Pemprov-Rhode Island University teken MoU

Salah satunya adalah Anang, sebagai barista cafe di Kedai tersebut. Kepada Porostimur.com dia menceritakan pengalamannya bekerja di Kedai “KaYe”.

“Sebagai mahasiswa perantau yang tidak ingin terlalu bergantung atau membebani orang tua, maka saya bekerja untuk memenuhi kebutuhan saya. Di Kedai ini saya belajar semua, karena ini merupakan pengalaman pertama saya dalam pekerjaan di cafe,” tandasnya.

Sebagai pelayan di kedai yang baru, Anang mengatakan dirinya berharap semakin banyak pengunjung yang datang menggunakan tempat secara gratis untuk melakukan kegiatan apa saja secara positif.

“Kedai ini memang masih baru, jadi butuh sosialisasi untuk memperkenalkan Kedai ini ke masyarakat secara luas, terutama di Kota Ambon, maka dari itu dengan adanya penggunaan tempat secara gratis, diharapkan mampu mengenalkan kedai ini secara luas, sekaligus dengan adanya kegiatan yang diadakan oleh aktivis maupun berbagai komunitas dapat meningkatkan pengunjung dan tentu pembeli dari Kedai ini,” harap Anang.

Baca Juga  Surat Terbuka Pekerja Seni untuk Jokowi, Dikta: Biar Didengar Pak Presiden

Anang juga memberi pesan kepada pengunjung, agar kiranya dapat memberi saran atau masukan terhadap makanan atau minuman yang dipesan untuk pengembangan kualitas rasa dari menu di kedai “KaYe”.

Bagi yang ingin mengadakan kegiatan yang tidak terlalu mengeluarkan banyak biaya, Kedai “KaYe” ini bisa menjadi pilihan yang tepat, karena pengunjung tidak perlu membayar tempat yang digunakan, cukup membeli saja sesuai pilihan menu yang tersedia di Kedai.

Kedai ini memuat minimal kuota 100 orang untuk setiap kegiatan. Dengan konsep cafe outdoor namun tetap sejuk dan tenang, serta live music juga tersedia. (cr2/gppermi)

Editor: Mukhlis