Sejak dibuka Kedai “KaYe” tersebut, menurut Chisalvia, orang seringkali buat kegiatan-kegiatan berupa kajian, aksi sosial seperti galang dana dan aktivitas umum lainnya oleh para aktivis atau komunitas di kota Ambon.
“Kami menyediakan tempat secara gratis dan menerima siapapun yang ingin melaksanakan kegiatan disini, selama untuk kebaikan bersama, misalnya diskusi, galang dana, pentas seni, dan sebagainya.” ungkap Chisalvia.
Sebagai owner Kedai “KaYe”, Chisalvia memberlakukan syarat-syarat jika ada masyarakat yang ingin menggunakan tempat untuk kegiatan.
“Sejauh ini kami memberikan kesempatan kepada siapa saja untuk melakukan kegiatan secara gratis di Kedai “Kaye” dengan syarat pengunjung tidak diizinkan membawa makanan dan minuman dari luar, sehingga transaksi penjualan di dalam kedai tetap ada,” katanya.
Kedai “KaYe” mempunyai 3 (tiga) orang pekerja yang merupakan anggota jejaring KY, mereka ingin menambah pengalaman, sekaligus menambah kebutuhan finansialnya.
Salah satunya adalah Anang, sebagai barista cafe di Kedai tersebut. Kepada Porostimur.com dia menceritakan pengalamannya bekerja di Kedai “KaYe”.
“Sebagai mahasiswa perantau yang tidak ingin terlalu bergantung atau membebani orang tua, maka saya bekerja untuk memenuhi kebutuhan saya. Di Kedai ini saya belajar semua, karena ini merupakan pengalaman pertama saya dalam pekerjaan di cafe,” tandasnya.




