Kehidupan Perempuan Tobelo

oleh -35 Dilihat

Perempuan-perempuan Tobelo rata-rata lebih kecil dari laki-laki Tobelo. Akan tetapi mereka sama-sama kuat fisiknya. Perempuan Tobelo sering menggunakan sarung sebatas kaki/betis. Pada berbagai upacara adat perempuan memakai sarung lebih panjang dari pada laki-laki sebatas mata kaki dan kebaya berwarna putih sebagai warna kegemaran mereka (Amal 2012:13).

Mereka perempuan Tobelo sangat pandai dalam menggunakan alat musik tradisional. Salah satunya adalah fiol atau masyarakat Tobelo menyebutnya arababu.

Ada sebuah cerita bahwa pernah Sultan Ternate berkunjung keTobelo, tanpa diacarakan, datang seorang perempuan muda menyambut sultan dengan memainkan arababu. Ia naik ke atas perahu dan memainkannya. Sultan dan para penjemput kaget, tetapi perempuan muda itu terus bernyanyi sehingga semua penjemput pun turut menyanyikan lagu tersebut (Amal 2012:112).

Baca Juga  Seminar Internasional FH Unpatti, Ely Toisutta Dorong Penguatan Hak Masyarakat Adat

Perempuan-perempuan tobelo sangat taat kepada suami serta kedua orang tunya. Mereka rela mengukuti suaminya ke mana saja jika diizinkan. Mereka juga sangat mencintai anak-anaknya, merawatnya dengan kasih sayang walaupun nada mereka agak kasar ketika memanggil anak-anak mereka.

Pada tahun 2017 ketika Garasi Genta berkunjung ke Galela tepatnya dirumah Almarhum M. Adnan Amal beliau sedikit bercerita tentang keberanian perempuan tobelo-galela beliau mengatakan:
“Pada abad ke 18-19 ketika Sultan Nuku Ia membangun armada Kora-kora di daerah sekitar Pulau Seram dan Irian Jaya dengan mendirikan basis pertahanan di Seram Timur pada tahun 1781. Perempuan dan anak-anak dari Suku Tobelo-Galela ikut serta di atas perahu kora-kora yang dibawa suaminya hingga bertahun-tahun. Mereka rela mati untuk ikut suami mereka dan Sultan Nuku”.

No More Posts Available.

No more pages to load.