Oleh: Abas Tohar, Mitra Buana Internasional; Center for Studies on Territorial Disputes and Border Conflicts
Di zaman dahulu, propaganda bekerja dengan cara yang sederhana. Negara mencetak poster. Radio menyiarkan pidato. Surat kabar menjadi corong kekuasaan. Publik tahu siapa yang berbicara dan dari mana pesan itu berasal.
Hari ini semuanya berubah.
Propaganda tidak lagi selalu datang dari negara. Ia hadir melalui layar telepon genggam yang kita pegang setiap menit. Ia berbicara melalui video pendek, podcast, thread media sosial, kanal YouTube, bahkan pesan berantai keluarga. Ia tidak memaksa. Ia tidak berteriak. Ia justru berbisik.
Dan karena berbisik, ia sering lebih dipercaya.
Kita hidup di era ketika informasi berlimpah tetapi pemahaman justru semakin langka. Data tersedia di mana-mana, namun konteks menghilang. Orang merasa semakin mengetahui banyak hal, padahal yang mereka miliki sering kali hanyalah serpihan realitas yang sudah disusun sedemikian rupa untuk menghasilkan kesimpulan tertentu.
Di sinilah muncul dua instrumen penting dalam perang kognitif modern: paltering dan speculative framing. Dua istilah yang mungkin terdengar akademis, tetapi sesungguhnya sedang bekerja setiap hari di hadapan mata kita.









