Ketika Kekuasaan Tidak Lagi Dibela: Pelajaran dari Venezuela

oleh -5 Dilihat

Apa yang terjadi di Venezuela juga menunjukkan bahwa kekuasaan modern tidak selalu runtuh melalui peristiwa heroik atau tragedi berdarah. Ia runtuh melalui absennya keputusan di saat genting. Tidak ada satu perintah yang tegas untuk bertahan, tidak ada satu figur yang tampil mengambil risiko, tidak ada satu struktur yang rela mempertaruhkan diri. Negara memang masih ada secara simbolik, tetapi kekuasaan efektifnya sudah bocor. Aparat hadir secara fisik, namun tidak lagi hadir secara politik.

Pelajaran dari Venezuela sederhana, tetapi keras: kekuasaan tidak runtuh ketika diserang, melainkan ketika berhenti dibela. Rezim yang kehilangan kepercayaan elite-nya sendiri akan jatuh bahkan tanpa pertempuran. Dalam dunia hari ini, ancaman terbesar bagi sebuah negara bukan selalu musuh di luar, melainkan keraguan di dalam lingkaran kekuasaan.

Baca Juga  Lapas Labuha Digerebek Gabungan TNI-Polri, Kamar Warga Binaan dan Tes Urin Disasar

Sejarah sering mencatat momen jatuhnya penguasa sebagai peristiwa besar. Namun fase yang paling menentukan sering luput dicatat: saat kekuasaan dibiarkan sendirian. Venezuela mengingatkan kita bahwa kejatuhan paling efektif justru terjadi dalam kesunyian—ketika tidak ada lagi yang berdiri untuk membela kekuasaan itu sendiri.

Dalam dunia yang kian bising oleh kekuatan dan ancaman, Venezuela mengingatkan kita bahwa ujian terakhir sebuah kekuasaan bukanlah kemampuannya menaklukkan lawan, melainkan kemampuannya mempertahankan kepercayaan orang-orang yang berdiri paling dekat dengannya. (**)

No More Posts Available.

No more pages to load.