Sebab bisa jadi—ini adalah Ramadan terakhir yang diam-diam kita miliki.
Dan jika benar demikian, maka yang tersisa bukan hitungan amal, melainkan kedalaman rasa. Bukan panjangnya ibadah, tetapi kejujuran dalam bersujud. Bukan ramai-ramainya ritual, melainkan sunyi yang benar-benar sampai.
Ketika Ramadan di ujung menghilang, yang paling genting bukanlah kesedihan karena ditinggalkan, melainkan keberanian untuk tidak kehilangan arah setelah ia pergi.
Agar selepasnya, kita tidak kembali menjadi asing bagi cahaya.
Agar selepasnya, Tuhan tidak hanya kita cari di bulan suci—lalu kita lupakan di hari-hari biasa.
Sebab Ramadan sejatinya bukan tentang waktu yang singgah,
melainkan tentang jalan pulang yang sempat dibukakan.
Dan kini pertanyaannya, yang tak bisa kita elakkan:
apakah kita benar-benar telah melangkah ke sana—
atau baru berdiri di gerbang, lalu membiarkannya tertutup perlahan? (**)








