Jangan-jangan, ia telah datang diam-diam, mengetuk hati kita yang justru tak siap membuka.
Namun pertanyaannya tetap tinggal, menggantung seperti langit yang tak terjawab: ke mana kaki kita melangkah?
Apakah kita benar-benar mendekat pada cahaya, atau sekadar singgah di tepinya—tanpa pernah berani masuk dan berubah?
Ramadan bukan sekadar peristiwa yang lewat dalam kalender. Ia adalah cermin bening yang tak bisa dibohongi. Ia memperlihatkan wajah kita apa adanya—tanpa hiasan, tanpa topeng. Ia tidak tertarik pada rutinitas yang kita ulang, tetapi pada kejujuran yang kita rawat.
Dan kini, saat ia hampir menghilang, cermin itu perlahan ditarik kembali. Kita ditinggalkan sendirian—berhadapan dengan diri yang tak bisa lagi kita sembunyikan.
Apakah kita benar-benar tumbuh sejak ia datang?
Atau kita hanya berganti ritme—lebih sibuk, lebih lelah, tapi tetap kosong di dalam?
Kesedihan Ramadan bukan semata karena ia pergi. Tapi karena kita sadar, tidak semua yang ia bawa sempat kita peluk. Ada doa yang kita tunda hingga lupa, ada tangis yang kita simpan karena gengsi, ada kebaikan yang kita niatkan—lalu kita kubur sendiri dengan alasan “nanti”.
Padahal waktu, tak pernah mengenal kata nanti.
Maka di detik-detik akhirnya, Ramadan seperti berbisik—lirih, namun mengguncang:
jangan biarkan aku pergi tanpa bekas di hatimu.
Jika tak sempat menjadi sempurna, setidaknya jadilah sungguh.
Jika tak mampu berbuat banyak, setidaknya jangan berhenti melangkah.
Jika tak bisa berubah sepenuhnya, setidaknya jangan kembali menjadi yang lama.








