Oleh: Ady Amar, Kolumnis
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Ramadan sebentar lagi meninggalkan kita. Soal kita akan bersua di Ramadan berikutnya itu urusan Tuhan—apakah masih mempercayakan umur atau menyudahinya. Tapi satu hal yang tak bisa ditawar: jarak kita dengan kematian kian menipis, setipis embun yang menunggu jatuh di ujung daun.
Ramadan yang bagai tamu agung itu datang tanpa riuh, kini bersiap pergi tanpa pamit. Ia tidak mengetuk saat tiba, dan tidak bersuara saat beranjak. Tiba-tiba saja kita tersadar—ia hampir tak lagi di sini. Seolah baru kemarin kita menyambutnya dengan dada penuh harap, kini kita menatapnya dengan hati gundah oleh kehilangan.
Ada yang pelan-pelan ikut luruh bersamanya: kesempatan yang tak pernah menjanjikan diri untuk kembali.
Di bulan ini, pintu-pintu maaf terbuka selebar langit yang tak bertepi. Kita diajak menanggalkan kesombongan, menelanjangi ego, dan berdiri sebagai manusia yang rapuh di hadapan Tuhan. Kata “maaf” yang di hari-hari biasa terasa seberat batu, di Ramadan menjelma ringan seperti angin yang melintas di dada, karena ada tangan tak kasatmata yang melonggarkan simpul-simpul mengakui salah dan khilaf.
Namun kini, ketika Ramadan di ujung menghilang, kita bertanya dalam lirih yang nyaris tak terdengar: sudahkah semua pintu itu kita datangi? Sudahkah kita benar-benar mengetuknya dengan ketulusan, atau sekadar berdiri di ambang—lalu berpaling?








