Jangan-jangan, kita biarkan ia terbuka begitu saja—tanpa pernah kita masuki dengan sepenuh jiwa.
Ramadan juga menurunkan kemurahan yang tak terhitung oleh logika manusia. Amal-amal kecil dilipatgandakan hingga melampaui batas yang kita bayangkan. Sedekah sederhana menjelma luas, doa yang lirih menembus langit tanpa penghalang. Seakan rahmat diturunkan seperti hujan—tanpa memilih siapa yang pantas dan siapa yang tidak.
Namun kita, seringkali terlalu pandai menunda. Mengulur niat, menawar waktu, seolah kesempatan adalah sesuatu yang bisa disimpan untuk nanti. Kita lupa, justru yang fana itulah yang paling layak diperjuangkan.
Dan kini, ketika Ramadan hampir beranjak, kita tergagap dalam hitungan yang sia-sia—mengumpulkan sesal dari kebaikan yang tak jadi dilakukan.
Di bulan ini pula, pintu neraka dikabarkan tertutup, dan pintu surga dibuka selebar-lebarnya. Bukan sekadar janji tentang akhir, tetapi isyarat tentang arah. Bahwa dalam bentangan waktu ini, jalan menuju terang dilapangkan, sementara gelap dipersempit langkahnya.
Sudahkah kita benar-benar bersua dengan malam seribu bulan—Lailatul Qadar—atau ia hanya lewat seperti angin yang tak sempat kita rasakan? Malam ketika langit diturunkan begitu dekat, ketika doa-doa bergetar lebih jernih, dan takdir ditulis dengan kasih yang melimpah. Namun seringkali kita terlelap di antara peluang yang agung itu—lebih sibuk dengan lelah daripada rindu, lebih tenggelam dalam kebiasaan daripada kesungguhan.








