Kisah Imam Abu Hanifah Menolak Jabatan Enak Bergaji Miliaran

oleh -319 views
Ulama terdahulu banyak yang menolak jabatan enak walaupun digaji Miliaran. Mereka memilih untuk menjauhinya seperti yang dilakukan Imam Abu Hanifah di masa Dinasti Umayyah dan Abbasiyah. Foto ilustrasi/ist
Kisah Imam Abu Hanifah Menolak Jabatan Enak Bergaji Miliaran

Kenapa beliau menolak? Alasannya lebih kepada masalah ijtihad pribadi para ulama. Banyak ulama terdahulu menolak jabatan kekuasaan dan memilih menjauhinya, seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Abdullah bin Mubarak dan lainnya. Ada yang mau menerima seperti Qadhi Yusuf, murid langsung Imam Abu Hanifah yang disebut sebagai qadhi qudhat (hakimnya hakim) pertama dalam dunia Islam.

Gaji yang Sangat Fantastis
Tahukah Anda berapa gaji jabatan qadhi yang ditolak itu? Boleh dikatakan nilainya sangat fantastis. Sebagian sejarawan mencatat di masa Dinasti Umawiyah, gaji Qadhi terendah adalah 10 Dinar. Pada masa Abasiyah terendahnya 30 Dinar hingga 300 Dinar.

Jika 1 Dinar hari ini setara dengan nilai Rp3,9 juta, maka gaji perbulan di masa Umawiyah setara Rp39 juta. Sedangkan di masa Abbasiyah mencapai Rp117 juta perbulan hingga Rp1,7 Miliar. Sebagian literatur bahkan menyebutkan gaji qadhi bisa mencapai 1.000 Dinar atau setara Rp3,9 Miliar perbulan, seperti yang diterima oleh qadhi Mesir, Musa bin Munkadir. Itu belum termasuk fasilitas dan tunjangan lain dari kekhalifahan.

Baca Juga  Soal Pembatasan Jabatan Ketum Parpol, Bahlil: Tak Perlu Diseragamkan

Seperti apakah jabatan qadhi itu? Qadhi adalah jabatan karier politik paling bergengsi pada masa Dinasti Islam. Jabatan ini hanya bisa diisi oleh mereka yang berstatus ulama. Bukan sembarang ulama, tapi ulama yang secara umum memiliki pengaruh besar. Karena para qadhi ini selain menjalankan fungsi pemerintahan juga punya peran politik.

No More Posts Available.

No more pages to load.