“Tidak, wahai Rasulullah,” jawab orang Persia itu.
Ternyata, ia menyiapkan hidangan itu hanya untuk Rasulullah SAW. Mendengar jawaban orang Persia itu, Rasulullah SAW berkata kepada sang istri tercinta, “Wahai Aisyah, engkau tidak diundang.”
Merasa sungkan menerima undangan tanpa mengajak istri tercinta, Rasulullah SAW lantas menolak dengan halus undangan tetangganya itu.
Di kemudian hari, sang tetangga ini kemudian mencoba mengundang Rasulullah SAW lagi untuk hadir di rumahnya dan mencicipi masakan buatannya.
Rasulullah SAW yang tidak biasa menolak undangan, bertanya kepada orang Persia itu dengan ramah dan santun, “Wahai Saudaraku, apakah Aisyah, istriku, juga diundang?”
“Tidak, wahai Rasulullah,” jawaban orang Persia itu sama seperti undangan di hari sebelumnya.
Lagi-lagi Rasulullah SAW menolak undangan tersebut dengan santun. Beliau enggan memenuhi undangan dan meninggalkan istrinya seorang diri di rumah.
Tak kapok, orang Persia tetangga Rasulullah SAW ini kembali mengundang Rasulullah SAW untuk datang ke rumahnya. Ia sangat ingin rumahnya dikunjungi Rasulullah SAW sekaligus menjadi kehormatan baginya karena bisa menjamu Rasulullah SAW dengan masakan buatannya.
Dan, untuk ketiga kalinya pula Rasulullah SAW bertanya kepada orang Persia itu dengan ramah dan santun, “Apakah Aisyah, istriku, juga diundang?”









