Mengutip buku Tragedi-Tragedi paling Memilukan dalam Sejarah Islam karya Muhammad Zulian Alfarizi, kaum muslimin di Kufah (Irak) mengirim banyak surat dan utusan yang menyatakan kesetiaan mereka dan meminta beliau datang ke Kufah untuk menjadi pemimpin umat di sana. Mereka berjanji akan membela dan mendukung Husain jika ia datang.
Setelah mempertimbangkan berbagai hal dan mengutus sepupunya, Muslim bin Aqil, ke Kufah terlebih dahulu, Husain akhirnya memutuskan untuk berangkat dari Makkah menuju Kufah bersama keluarga dan sejumlah kecil sahabat.
Namun, situasi di Kufah ternyata berubah drastis. Di bawah tekanan Gubernur Ubaidillah bin Ziyad, masyarakat Kufah mengingkari janji mereka dan membiarkan Muslim bin Aqil dibunuh. Husain pun akhirnya terjebak dalam perjalanan, hingga ia dan rombongannya dihentikan di padang Karbala oleh pasukan Yazid.
Pada 10 Muharram tahun 61 Hijriah, terjadilah tragedi memilukan. Husain dan keluarganya dikepung di Karbala, dalam keadaan sangat kehausan karena akses ke Sungai Eufrat ditutup. Pasukan Husain hanya berjumlah sekitar 70 orang, sementara pasukan Yazid yang dipimpin oleh Umar bin Sa’ad mencapai ribuan orang.
Meski berada dalam kondisi genting, Husain tetap menolak untuk tunduk dan memberi baiat kepada Yazid. Ia memilih berdiri tegak dalam kebenaran, meski harus berhadapan dengan maut.











