Dalam sejarah Islam, terdapat peristiwa memilukan yang tak pernah dilupakan oleh umat muslim dari masa ke masa. Peristiwa itu adalah syahidnya Sayyidina Husain bin Ali, cucu Rasulullah SAW, dalam Tragedi Karbala.
Sayyidina Husain adalah putra dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fatimah az-Zahra, putri Rasulullah SAW. Beliau adalah cucu kesayangan Nabi SAW yang tumbuh dalam asuhan wahyu dan teladan kenabian.
Dikutip dari buku Misteri Bulan Suro: Perspektif Islam Jawa karya Muhammad Sholikhin, Karbala merupakan salah satu kota suci bagi kaum Syiah di Irak. Lokasinya di sekitar 140 km di selatan Baghdad. Di kota ini terdapat makam Husain bin Ali bin Abi Thalib, keluarga dan pengikutnya yang dibunuh oleh pasukan Umayah, di bawah pimpinan Ubaidullah bin Ziyad, cucu Abu Sufyan.
Setelah wafatnya Muawiyah bin Abu Sufyan, kekuasaan berpindah kepada anaknya, Yazid bin Muawiyah, pada tahun 60 H. Penunjukan Yazid sebagai khalifah menuai penolakan dari banyak tokoh umat Islam, termasuk dari Sayyidina Husain.
Sikap penolakan ini bukan karena ambisi politik, tetapi karena Husain melihat banyak penyimpangan dalam pemerintahan Yazid, baik dalam hal akhlak, keadilan, maupun penyalahgunaan kekuasaan. Ia menolak untuk memberikan baiat (sumpah setia) kepada Yazid karena tidak ingin melegitimasi kepemimpinan yang zalim.











