Lailatul Qadar bukan sekadar malam sunyi di penghujung Ramadan. Ia adalah momentum kosmis di mana pembatas antara langit dan bumi seolah menipis.
Di malam yang lebih baik dari seribu bulan ini, terjadi sebuah peristiwa luar biasa, yakni turunnya rombongan besar malaikat yang membawa kedamaian bagi penduduk Bumi.
Merujuk pada buku Rahasia Puasa Ramadhan karya Yasin T Al Jibouri dan Mirza Javad Agha Maliki Tabrizi, terdapat sebuah riwayat yang mengisahkan instruksi khusus dari Allah SWT kepada Malaikat Jibril. Beliau diperintahkan turun ke Bumi bersama sepasukan malaikat dengan membawa panji-panji berwarna hijau.
Panji tersebut kemudian ditancapkan di puncak Ka’bah sebagai simbol kemenangan dan kemuliaan. Peristiwa besar ini selaras dengan firman Allah dalam Surah Al-Qadr ayat 3-4:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ – ٣
تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ – ٤
Artinya: “Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan,”
Pelukan Sayap Jibril dan Jabat Tangan Malaikat
Keistimewaan malam ini juga terletak pada wujud Malaikat Jibril. Dikisahkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas RA, Jibril memiliki 600 sayap, namun ada dua sayap yang sangat istimewa. Kedua sayap ini hanya dibentangkan pada malam Lailatul Qadar hingga menaungi wilayah timur dan barat.









