Hari Arafah merupakan puncak sekaligus penentu keabsahan ibadah haji umat Islam. Pada hari tersebut, jutaan jemaah berkumpul di Padang Arafah untuk melaksanakan wukuf dalam keadaan sedang berihram.
Terdapat aturan ketat mengenai hal-hal yang tidak boleh dilakukan selama di hari Arafah. Melanggar larangan-larangan ini memiliki konsekuensi hukum yang serius terhadap keabsahan haji seseorang, mulai dari kewajiban membayar dam hingga membatalkan ibadah haji.
Berikut adalah ulasan lengkap mengenai konsekuensi dan dampak hukum melanggar larangan di hari Arafah yang dirangkum detikHikmah
Larangan pada hari Arafah merupakan hal yang tidak boleh dilakukan oleh jemaah haji selama berada di Tanah Suci dan sedang dalam keadaan ihram. Terkhusus jemaah sedang melaksanakan rangkaian ibadah haji, yaitu wukuf di Padang Arafah.
Larangan ini berlaku untuk menjaga kekhusyuan ibadah, kesucian ihram, ketertiban, serta kenyamanan jemaah lainnya. Dinukil dari Buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah terbitan Kementerian Haji & Umrah (Kemenhaj) RI, berikut larangan selama hari Arafah:
– Merokok di seluruh kawasan Arafah, terutama di dalam tenda. Hal ini dapat mengganggu jemaah lain, mengurangi kekhusyukan ibadah, dan membahayakan diri serta lingkungan.
– Membuang puntung rokok sembarangan, dikhawatirkan terjadi kebakaran.
– Memaksakan diri berangkat ke atau memaksakan diri wukuf di luar kemah.
– Larangan ihram, seperti memakai penutup kepala dan menutup mata kaki bagi jemaah laki-laki, serta menutup kedua telapak tangan dan wajah bagi jemaah perempuan.
– Memakai wangi-wangian
– Larangan fisik, seperti memotong kuku dan mencukur rambut dan bulu badan.
– Memburu dan Membunuh binatang, terkecuali binatang buas.
– Memotong kayu-kayuan, ranting pohon, dan mencabut rumput di Tanah Haram.
– Bersetubuh, bercumbu, mencium, dan merayu yang mendatangkan syahwat.
– Mencaci, bertengkar, dan mengucapkan kata-kata kotor.









