Misi ini diberikan setelah Pertempuran Qadisiyah pada tahun 14 H, yang melemahkan kekuatan utama Persia namun belum sepenuhnya menghentikan serangan mereka. Ubullah saat itu menjadi pusat penting bagi Persia untuk mengganggu wilayah-wilayah Islam yang baru dibebaskan.
Sebelum keberangkatan, Umar bin Khattab memberikan pesan yang tegas dan sarat nilai keimanan kepada Utbah bin Ghazwan. Ia memerintahkan agar Utbah berdakwah terlebih dahulu, menawarkan jizyah jika dakwah ditolak, dan berperang dengan keteguhan hati jika semua jalan damai tertutup.
Utbah bin Ghazwan berangkat dengan pasukan yang jumlahnya relatif kecil dibandingkan kekuatan Persia. Meski demikian, ia membawa keyakinan penuh kepada pertolongan Allah dan menjalankan amanah tersebut dengan penuh keberanian.
Setibanya di Ubullah, Utbah menghadapi pasukan Persia yang telah disiapkan secara maksimal dan tergolong pasukan elite. Ia segera mengatur barisan, berdiri di garis depan, dan memimpin langsung pasukannya dalam pertempuran.
Dengan tombak yang dikenal selalu tepat sasaran, Utbah mengobarkan semangat jihad pasukannya. Ia menyerukan takbir dengan keyakinan penuh, “Allahu Akbar! Allah pasti menepati janji-Nya!”, yang semakin menguatkan mental kaum Muslimin.









