Dalam waktu yang tidak lama, pasukan Islam berhasil menaklukkan Ubullah dan mengusir tentara Persia dari wilayah tersebut. Kemenangan ini membebaskan penduduk dari tirani dan menjadi bukti nyata pertolongan Allah kepada hamba-Nya yang bertakwa.
Setelah menaklukkan Ubullah, Utbah bin Ghazwan mengganti nama wilayah tersebut menjadi Basrah dan mulai membangunnya sebagai kota Islam. Ia mendirikan masjid besar yang berfungsi sebagai pusat ibadah, dakwah, dan pembinaan umat, sekaligus fondasi kehidupan keislaman masyarakat Basrah.
Meski berniat kembali ke Madinah untuk menghindari jabatan, Utbah diperintahkan Amirul Mukminin untuk tetap tinggal dan memimpin Basrah. Ia pun menjalankan amanah sebagai imam salat, guru agama, dan hakim yang memutuskan perkara dengan adil serta berlandaskan syariat.
Dalam kepemimpinannya, Utbah bin Ghazwan dikenal dengan kezuhudan, kewaraan, dan kesederhanaan hidup yang luar biasa. Ia menentang keras gaya hidup mewah dan berlebihan, meskipun sikap tersebut membuat sebagian masyarakat yang masih terikat dengan kecintaan dunia merasa tidak nyaman.
Melalui khutbah dan nasihatnya, Utbah selalu mengingatkan umat tentang kerasnya kehidupan di masa awal Islam dan pentingnya qana’ah. Ia menolak segala bujukan kemewahan dengan keteguhan iman, seraya menegaskan bahwa kemuliaan sejati bukan di mata manusia, melainkan di sisi Allah.










