“Pengalaman tahun kemarin itu di Banda tidak dapat subsidi, lalu kemudian pemerintah daerah lewat Komisi III kita berusaha bikin mudik gratis. Tapi akhirnya tidak ada penumpang juga,” ungkapnya.
Untuk tahun ini, ia menyebut terdapat program mudik gratis menggunakan kapal milik Siong, namun hanya dilaksanakan satu kali pada 13 Maret dan terbatas pada rute tertentu.
Kondisi tersebut, kata dia, membuat masyarakat tidak memiliki banyak pilihan transportasi selain menggunakan kapal feri lintas, kendaraan darat, maupun kapal sabuk.
“Tidak ada alternatif lain kecuali lewat feri lintas, mobil, ataupun kapal-kapal sabuk,” katanya.
Soroti Tidak Beroperasinya Kapal Sabuk 80
Kelilauw turut mempertanyakan kapan kapal Sabuk 80 dapat kembali beroperasi. Pasalnya, ketiadaan kapal tersebut memaksa masyarakat menempuh rute lebih panjang dengan biaya yang jauh lebih besar.
Ia mencontohkan, biaya perjalanan yang sebelumnya relatif murah kini meningkat signifikan karena harus melalui jalur alternatif.
“Bayangkan saja, kalau naik Rp100 ribu atau Rp50 ribu bisa sampai di Bula. Tapi karena lewat Masohi, biaya bisa lebih dari Rp1 juta. Pulang pergi Rp1,5 juta, sementara gaji mereka hanya Rp250 ribu per bulan,” jelasnya.
Apresiasi Kinerja ASDP
Meski demikian, Kelilauw tetap memberikan apresiasi kepada pihak ASDP atas upaya yang telah dilakukan dalam menangani berbagai persoalan transportasi di Maluku.









