Kucurkan Beasiswa Akhir Study 219 Mahasiswa Unipas, ini Curahan Hati Bupati Morotai

oleh -71 views
Link Banner

Porostimur.com, Daruba – Sebanyak 219 mahasiswa Univeristas Pasifik (Unipas) menerima beasiswa akhir studi dari pemerintah daerah Kabupaten Morotai.

Hal ini dikatakan Bupati Morotai Benny Laos melalui keterangan tertulisnya yang diterima redaksi Porostimur.com, Kamis (10/3/2022).

Benny mempersilahkan para mahasiswa penerima beasiswa agar dapat memeriksa transfer dana masuk di rekening masing-masing.

“Bersama ini saya sampaikan kepada Mahasiswa Unipas yang menghadapi study akhir, bahwa hari ini sudah dilakukan transfer biaya akhir study sebesar Rp.8,5 jt/ mahasiswa dengan total 1,5 Milyar ke rekening 219 mahasiswa. Bagi mahasiswa yang namanya tercantum pada link ini – http://bit.ly/PembayaranUnipas2022 – mohon mengecek tabungan masing-masing,” ujar Benny Laos.

“Silahkan dilakukan pencocokan antara jumlah yang tertera pada daftar pemindahbukuan dan jumlah yang masuk pada rekening masing-masing. Jika berbeda, dipersilahkan melakukan reclaim kepada Bagian Kesra, Setda Pulau Morotai,” imbuhnya.

Baca Juga  Dari Jayapura, M.A.C Gebrak Indonesia

Benny bilang, langkahnya menggagas publikasi seperti ini setiap akan dilakukan pemindabukuan, untuk memastikan mahasiswa benar-benar menerima dana yang sudah dialokasikan untuk biaya kuliah atau akhir studi dari Pemda Morotai. Selanjutnya cara ini akan direplikasi oleh instansi terkait.

“Saya berharap, lewat usaha dan langkah transparansi ini, tidak ada lagi mahasiswa yang terancam putus kuliah. Ayo semangat anak-anaku! Sudah cukup saya rasakan pahitnya putus sekolah hingga terpaksa mengambil jalur Paket C. Saya percaya, kalian bisa menjadi sarjana dan berguna!,” tukasnya.

Benny Laos mengisahkan, dirinya juga pernah mengalami saat susah, dimana membayar SPP adalah sesuatu yang amat berat. Kisah pelik yang berujung putus sekolah SMA membuatnya selalu berpikir ketika menemui persoalan serupa selama menjadi kepala daerah.

Baca Juga  Laka lantas picu aksi saling lempar antar pemuda Batu Merah

“Hati ini terguncang, saat janji membiayai pendidikan gratis kadang menemui persoalan administratif. Sering kali ada mahasiswa yang menelpon, WA dan SMS menanyakan progres bantuan kuliah atau akhir studi yang pernah terlambat,” ungkap Benny.

“Saya kemudian membayangkan, bagaimana jika anak-anak itu tidak bisa ikut UAS hanya karena belum melunasi uang semester. Bagaimana kalau gara-gara biaya, anak-anak itu tidak bisa menyusun skripsi. Hingga yang kemudian terpikir pada kemungkinan terburuk, bagaimana kalau mereka drop out?,” sambungnya.

Benny menambahkan, bayang-banyang putus sekolah seperti yang pernah dia alami mendorongnya untuk turut terlibat pada hal-hal tehnis.

“Saya mencaritahu bottleneck yang menghambat proses, hingga ingin memastikan dana itu sampai pada mahasiswa yang membutuhkan,” pungkasnya. (red)