Di tengah perbedaan cakupan tersebut, satu persoalan tetap sama: jumlah warga Gaza yang hidup dengan disabilitas permanen terus meningkat, sementara kemampuan sistem kesehatan untuk memberikan rehabilitasi justru semakin terbatas.
Perang telah menyebabkan banyak warga Palestina mengalami luka berat dan kehilangan anggota tubuh. Pada saat yang sama, kerusakan rumah sakit serta fasilitas kesehatan lainnya ikut memukul layanan rehabilitasi dan penyediaan prostetik.
Otoritas kesehatan Palestina dan organisasi kemanusiaan telah berulang kali memperingatkan bahwa kekurangan peralatan medis, perlengkapan rehabilitasi serta berbagai bahan penting lainnya membuat korban cedera dan penyandang disabilitas jangka panjang semakin sulit memperoleh perawatan yang mereka butuhkan.
Bagi ribuan penyintas amputasi di Gaza, kehilangan anggota tubuh hanyalah awal dari perjuangan panjang. Setelah operasi selesai, mereka masih harus menghadapi pertanyaan yang jauh lebih besar: bagaimana kembali berjalan, bekerja, belajar dan menjalani hidup ketika fasilitas untuk membantu mereka pun ikut hancur oleh perang.
sumber: sindonews










