Cerpen Karya: John Jovi Sidabutar
Ahad malam, agaknya memang menjadi ritual bagi lelaki itu mengalunkan musik merdu nan lembut di tepian pantai lantaran kenangan terindah dalam hidupnya telah terkubur dalam-dalam di balik karang-karang laut. Ingin kudekati lelaki itu, namun melodi-melodinya mengisyaratkanku agar tetap duduk tenang memandanginya.
Lelaki itu konon adalah manusia paling berbahagia di kampungku, di tepian Selat Malaka. Kononnya begitu. Tak lama setelah angin darat berhembus, kebahagiaan itu ikut tertiup, melayang entah kemana, minggat dan melambung jauh dari lelaki itu. Hal itu terjadi lantaran cintanya kalah bersaing dengan adat istiadat keluarga sang mempelai.
Pernah suatu kali waktu aku kerja di pasar sebagai kuli angkut, kupandangi lelaki itu dengan gadisnya, bersepeda, berkeliling, beli itu beli ini, apapun itu asalkan keduanya bisa bersama, tak peduli dengan krisis moneter yang melanda. Keduanya kelihatan bahagia. Di taman kulihati lelaki itu memainkan gitar, melantunkan “Bukan Rayuan Gombal” karya Judika, berpuisi, berpantun, ah memang tak terbilang seninya, merayu perempuan itu sejadi-jadinya. Perempuan itu pun tersipu malu, mukanya memerah, tak kuat mendengar rayuan-rayuan itu untuk pertama kali dalam hidupnya. Wajar saja, suara lelaki itu memang bukan main, belum lagi skill-nya dalam memainkan gitar, macam John Lennon.
Pernah aku tak sengaja mendengar puisi lelaki itu untuk gadisnya. Indah nian.




