Jaminan ini penting, sebab sebagian keberatan ormas — yang disampaikan antara lain melalui Majelis Ulama Indonesia — bukan perkara remeh. Mereka paham, sejarah Palestina terlalu sering dipenuhi forum internasional yang ramai di awal, sunyi di akhir.
Lalu mengapa tetap nekat masuk ke kolam yang keruh, licin, dan beraroma busuk kepentingan? Jawabannya, yang tak pernah diungkap Prabowo, mengerucut pada satu nama yang kelicinannya menyaingi belut sawah berminyak: Benjamin Netanyahu.
Bagi Netanyahu, perdamaian bukan tujuan, melainkan variabel yang bisa diutak-atik. Rencana 20 poin Trump di tangannya berubah seperti cat air kehujanan: gambarnya masih ada, tapi maknanya luntur.
Sejak gencatan senjata 10 Oktober, ia memainkan jurus favoritnya — ingkar janji secara sistematis. Saat dunia berharap bantuan kemanusiaan mengalir, hampir lima ratus warga Palestina justru meregang nyawa.
Saat musim dingin menggigit seperti sekarang, monster itu menahan karavan tempat berlindung, hingga bayi-bayi di Gaza mati bukan oleh peluru, melainkan oleh dingin. Dalam kamus Netanyahu, kemanusiaan hanyalah hambatan logistik.
Manusia di Gaza baginya bukan siapa-siapa. Tak heran ia gerah dengan gagasan Dewan Perdamaian. Struktur berlapis yang dirancang Trump — komite eksekutif, komite Palestina, jenderal AS sebagai kepala pasukan stabilisasi — secara halus mencoba mencabut hak veto tak tertulis Netanyahu atas masa depan Gaza.










