Lonjakan Sunyi: Menelusuri Kasus HIV-AIDS di Kota Ambon Hingga Mei 2025

oleh -903 views

“Perilaku seks bebas mendominasi pola penularan di Ambon. Karena itu, edukasi dan deteksi dini sangat penting. Kami juga menyasar komunitas malam hari yang dianggap berisiko,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Ambon dr. Wendy Pelupessy, dalam keterangan pers awal tahun ini.

Sementara itu, Penjabat Sekretaris Kota Ambon Robby Sapulette, menegaskan bahwa penanggulangan HIV-AIDS tidak bisa hanya dilakukan oleh dinas kesehatan. Menurutnya, perlu keterlibatan semua elemen masyarakat—termasuk lembaga agama, keluarga, dan tokoh adat—untuk membentuk kesadaran kolektif dan membangun norma sosial yang lebih sehat.

“Kasus HIV bukan semata soal kesehatan, ini juga menyangkut nilai, perilaku, dan lingkungan sosial. Kita perlu bergerak bersama,” tegasnya beberapa waktu lalu.

Baca Juga  Eks Direktur FBI James Comey Didakwa Terkait Unggahan ‘86 47’, Bantah Ancam Trump

Namun, di balik semua upaya itu, tantangan tak sedikit. Stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV-AIDS (ODHA) masih tinggi. Banyak yang enggan memeriksakan diri atau minum obat secara teratur karena takut dikucilkan.

Bahkan, retensi pasien terhadap pengobatan antiretroviral (ARV) masih tergolong rendah. Padahal, ARV terbukti mampu menekan jumlah virus dalam tubuh hingga tidak terdeteksi.

Untuk menjawab persoalan itu, Dinas Kesehatan Kota Ambon menggencarkan skrining aktif, baik melalui posyandu, klinik malam, maupun kerjasama dengan gereja dan sekolah. Mereka juga membuka ruang konseling dan memperkuat layanan rahasia di Puskesmas agar masyarakat tak lagi takut memeriksakan diri.

No More Posts Available.

No more pages to load.