Maluku Miskin Tapi Bahagia, Sebuah Dignity

oleh -146 views

Oleh: Bito Temmar, Politisi Senior

MASYARAKAT Maluku paling bahagia walau pun miskin dan tidak inovatif?. Pertanyaan ini sungguh-sungguh menarik untuk dieksplanasi.

Pertama, parameter-parameter objektif tentang modernitas tampaknya tidak mengusik masyarakat Maluku. Artinya terdapat nilai-nilai antropologis lokal yang kemungkinan besar dibentuk secara ekologis Maluku yang umumnya terdiri atas pulau-pulau yang menjadi sandaran bagi mereka untuk merumuskan makna kemajuan.

Barangkali contoh bagus untuk hal ini bisa dilihat pada sektor perikanan misalnya. Sudah sejak lama beroperasi kapal-kapal perikanan yang menggunakan teknologi perikanan modern.

Tapi sepertinya tidak menarik perhatian warga kita untuk menjadi nelayan kapal-kapal tersebut. Mereka lebih nyaman dengan pola tangkap tradisional yang telah lama mereka kenal.

Baca Juga  Welora, Surga Tersembunyi di Ujung Maluku yang Kian Mendunia

Atau misalnya bidang pertanian. Pertanian sawah sudah sejak diperkenalkan di Seram dan Buru. Tetapi sangat sulit bagi masyarakat lokal setempat untuk beradaptasi dengan pola pertanian sawah.

Ada kecenderungan mereka defensif terhadap model pertanian dari luar. Sampai-sampai introduksi metoda pertanian semisal pupuk urea misalnya, petani lokal kita malah sangat selektif bahkan cenderung resisten.

No More Posts Available.

No more pages to load.