Marsinah, Munir, dan Ingatan Keadilan Negara yang Pincang

oleh -35 views

Marsinah akhirnya bisa dijadikan simbol nasional karena ia telah menjadi tragedi masa lalu yang aman untuk dikenang. Sedangkan Munir menyentuh jaringan kekuasaan yang bayangannya masih terasa hingga kini. Ia membawa isu penculikan aktivis, impunitas militer, kekerasan negara, dan dosa-dosa politik yang tak pernah sungguh dibuka.

Di titik itu, kita melihat bagaimana negara sering kali lebih nyaman merayakan keberanian yang telah menjadi sejarah, ketimbang menghadapi keberanian yang jejak ancamannya masih hidup. Negara mudah membangun museum, tetapi belum tentu berani membuka seluruh arsip. Negara mudah membuat upacara penghormatan, tetapi sering gagap ketika harus menyingkap nama-nama besar yang mungkin terseret dalam kejahatan politik masa lalu.

Baca Juga  KPK Periksa Muhadjir Effendy Terkait Kasus Dugaan Korupsi Kuota Haji

Karena itu, penghormatan kepada Marsinah semestinya juga menjadi cermin moral bagi negara: apakah keberanian mengakui pengorbanan seorang aktivis hanya berlaku untuk sejarah yang sudah selesai? Ataukah negara juga berani menuntaskan keadilan bagi mereka yang pembunuhnya mungkin masih bersentuhan dengan lingkar kekuasaan?

Sebab bangsa yang sehat bukan hanya bangsa yang pandai membuat monumen. Bangsa yang sehat adalah bangsa yang berani menatap kebenaran, sekalipun kebenaran itu mengguncang kenyamanan para pemegang kuasa.

No More Posts Available.

No more pages to load.