Mematungku di Kaki Bukit Ini

oleh -23 views

Cerpen Karya: Fina Aryadila

MEMATUNGKU di kaki bukit ini. Memandang dengan gamang ke seluruh sisi tanpa ruang. Tak ada lagi tempat bergantung ayunanku dan teman-teman. Tak ada lagi sapaan angin senja nan sejuk kala kami sedang bercandaan. Burung-burung serta tupai pun sudah jarang kelihatan. Dan aku sadar, saat ini bukanlah seperti lima belas tahun yang lalu. Ketika bumiku belum kelabu.

Mataku tertuju ke asap hitam yang sedang berhamburan. Akibat si jago merah yang sedang melahap ganas pepohonan di hutan seberang. Imajinasiku mulai berkeliaran. Membayangkan jika hutan itu bicara layaknya manusia, seraya berkata, “Manusia-manusia itu memanglah tak pandai bersyukur. Sudah diberikan akal, tetapi tidak digunakan. Sekarang mereka membakar rambut kami, tetapi nanti, sudikah rambut mereka dibakar matahari?” Aku tercengang. Sadar sebentar.

Tiba-tiba, kedua indra pendengaranku menangkap suara panjang. Refleks mataku langsung memandang ke arah gelombang. Pohon-pohon itu tumbang. Batang-batangnya tak lagi menjulang. Burung-burung pun bermigrasi tak tahu arah, hanya untuk membuat sarang. “Aku tumbuh tidak merugikanmu, tetapi kenapa ketika kalian dewasa malah merugikanku? Tidak-tidak, aku tidak merasa dirugikan, karena aku yakin, kalianlah yang merugi jika keturunanku tak kalian regenerasi,” seru pohon-pohon itu dalam benakku. Aku yakin sekali pohon-pohon itu merasa sedih. Tak sudi mereka dideforestasi.

Mematungku masih di kaki bukit ini. Tak bisa berkutik. Lidahku kelu. Hanya imajinasiku yang bermain menggebu-gebu. Masih memandang gergaji yang menumbangkan pepohonan dengan alunannya yang memekakan, aku membayangkan warga-warga hutan itu kehilangan hunian. Kehilangan kenyamanan. Migrasi dadakan mereka sangat menyedihkan. Wajar jika tiba-tiba ada harimau yang mampir ke pemukiman warga sekitar. Atau monyet-monyet yang merusak kebun pisang para petani yang sudah siap panen. Hatiku tercubit jika terus membayangkannya. Saat ini, aku duduk di kaki bukit yang lima belas tahun lalu merupakan tempat bermainku bersama teman-teman. Bukit yang dulunya hijau berubah menjadi gersang. Sinar mentari tak lagi dapat tersaring oleh para pepohonan, langsung mengenai kulitku yang sekarang sudah penuh dengan peluh. Jika kalian belum merasakan dan ingin merasakan bagaimana keadaan di gurun sahara, kalian semua, para pembaca, bisa langsung mendatangi tempat yang sedang aku duduki saat ini.

Sekarang yang aku pertanyakan adalah, dimanakah pikiran panjang para manusia? Apakah mereka tidak belajar Ilmu Pengetahuan Alam tentang efek pemanasan global? Apakah mereka tidak belajar tentang hutan yang menjadi paru-paru dunia? Apakah mereka masih bisa menghirup udara segar jika hutan-hutan mereka tiadakan? Atau hanya menunggu amukan para pasukan Tuhan?

Karena keserekahan, manusia menghilangkan hutan-hutan, mengotori sungai dengan limbah perindustrian, mengeksploitasi bumi, laut dan udara karena kepentingan nafsu yang tidak terkendalikan. Pohon, tumbuhan, gunung, lautan, serta bumi tidak bisa mengatakan bahwa dirinya tersakiti. Tetapi, realitas bencana, seperti; tsunami, letusan gunung, banjir, lahar dingin dan panas, angin puting beliung, serta jenis bencana lainnya merupakan isyarat, bahwa semuanya merasakan sakit, menjerit, tetapi manusia berlagak tuli. Karena hatinya telah tertutup dengan keserakahan dan nafsu angkara murka. Aku juga manusia sama seperti mereka, tetapi setidaknya, aku tidak mau turut merusak alam yang sudah dirawat oleh Raja Semesta.

“Permisi, Dik, kamu sedang apa disini?” Suara berat seseorang membuatku terperanjat. Imajinasiku langsung tersendat. Membawa kepada kenyataan bahwa di depanku sudah ada pria yang bisa diasumsikan berusia sekitar tiga puluhan. Dengan helm proyek biru yang bagaikan mahkota di kepalanya. Beliau menatapku bingung tatkala melihat aku yang masih melamun. “Halo, Dik. Kamu melamun aja?” Aku tergagap menjawab, “Eh-Ti-Tidak, Pak. Saya hanya sedang menikmati pemandangan di kaki bukit ini.” Tentu saja saya beralibi. Tidak ada yang dapat dinikmati disini. Hanya hamparan tanah gersang nan luas serta lubang-lubang bekas pengerukan yang menjadi penghias. Beliau tersenyum menanggapi, “Ya sudah kalau begitu, lebih baik kamu pulang saja, Dik. Karena saya dan yang lainnnya ingin melakukan pengukuran lahan untuk segera dilakukan pembangunan pabrik susu di kaki bukit ini.” Lagi. Lagi-lagi aku mematung di kaki bukit ini. Bukit yang—menurutku—sebentar lagi akan mendapatkan gelar sebagai ‘Mantan Bukit’. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.