Mematungku di Kaki Bukit Ini

oleh -1,056 views

Cerpen Karya: Fina Aryadila

MEMATUNGKU di kaki bukit ini. Memandang dengan gamang ke seluruh sisi tanpa ruang. Tak ada lagi tempat bergantung ayunanku dan teman-teman. Tak ada lagi sapaan angin senja nan sejuk kala kami sedang bercandaan. Burung-burung serta tupai pun sudah jarang kelihatan. Dan aku sadar, saat ini bukanlah seperti lima belas tahun yang lalu. Ketika bumiku belum kelabu.

Mataku tertuju ke asap hitam yang sedang berhamburan. Akibat si jago merah yang sedang melahap ganas pepohonan di hutan seberang. Imajinasiku mulai berkeliaran. Membayangkan jika hutan itu bicara layaknya manusia, seraya berkata, “Manusia-manusia itu memanglah tak pandai bersyukur. Sudah diberikan akal, tetapi tidak digunakan. Sekarang mereka membakar rambut kami, tetapi nanti, sudikah rambut mereka dibakar matahari?” Aku tercengang. Sadar sebentar.

Baca Juga  Proyek Jembatan Ake Busale Diduga Bermasalah, Praktisi Hukum Soroti Potensi Pidana

Tiba-tiba, kedua indra pendengaranku menangkap suara panjang. Refleks mataku langsung memandang ke arah gelombang. Pohon-pohon itu tumbang. Batang-batangnya tak lagi menjulang. Burung-burung pun bermigrasi tak tahu arah, hanya untuk membuat sarang. “Aku tumbuh tidak merugikanmu, tetapi kenapa ketika kalian dewasa malah merugikanku? Tidak-tidak, aku tidak merasa dirugikan, karena aku yakin, kalianlah yang merugi jika keturunanku tak kalian regenerasi,” seru pohon-pohon itu dalam benakku. Aku yakin sekali pohon-pohon itu merasa sedih. Tak sudi mereka dideforestasi.

No More Posts Available.

No more pages to load.