Ketiga, sagu dan tanah sebagai simbol identitas. Kita melihat dalam film ini kamera menyorot sagu yang ditebang. Sagu adalah ekonomi, ritual, dan memori kolektif. Menghancurkannya berarti menghapus cara hidup. Kita yang menonton melihat langsung apa yang hilang.
Makna Sosial: Identitas dan Trauma Kolektif
Makna sosial film ini terletak pada penunjukan bahwa konflik agraria juga berhubungan dengan identitas sosial dan trauma kolektif.
Identitas sosial selalu berhubungan dengan keanggotaan kita dalam suatu kelompok (Henri Tajfel). Seseorang akan memberi nilai pada dirinya (harga diri) sebagaimana dia menempatkan dirinya sebagai bagian yang utuh dari suatu kelompok.
Bagi Suku Marind, “kami” terikat pada tanah. Ketika tanah dirampas, yang diserang adalah identitas komunitas. Kemarahan bisa menjadi personal karena yang dirusak adalah “kami”.
Sebuah kelompok atau komunitas jika mendapat gangguan terus-menerus maka dapat mengalami apa yang dikenal dengan trauma kolektif. Trauma kolektif adalah luka psikologis yang dialami bersama akibat ancaman eksistensi kelompok (Roy Eyerman). Luka ini tersimpan dalam tubuh, ritual, dan diam.
Pentingnya Literasi Kritis
Film ini sangat gamblang dalam penyampaian dan penyajian data. Film ini mengajak kita membaca simbol dan konteks kekuasaan.











