Intan Jaya

oleh -32 views
Link Banner

Oleh: Made Supriatma, Peneliti dan jurnalis lepas. Saat ini bekerja sebagai visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapore

Menurut saya, laporan Narasi TV ini adalah sebuah karya jurnalistik yang dikerjakan secara apik dan sangat profesional. Laporan ini dikerjakan dengan mengulik berbagai data — termasuk data digital dan riset-riset akademis dan ilmiah baik yang dilakukan ilmuwan sosial maupun kelompok masyarakat sipil.

Hasilnya adalah laporan komprehensif yang disampaikan dengan format audio-visual yang tidak kalah bagusnya.

Laporan ini berangkat dari pertanyaan yang sederhana: Mengapa terjadi peningkatan atau eskalasi kekerasan antara militer Indonesia dan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat di wilayah Pegunungan Tengah, Papua?

Pada paruh pertama, laporan ini mengupas tentang dinamika perang — kronologis, eskalasi konflik, dan korban-korban masyarakat sipil. Ada banyak hal yang saya kira tidak diketahui publik Indonesia bisa dilihat disini.

Baca Juga  Ada Apa Dengan Republik Ini?

Seperti misalnya, bukti-bukti bagaimana militer memakai fasilitas sipil seperti kantor-kantor pemerintah, sekolah dan Puskemas sebagai pos mereka. Ini menyalahi Konvensi Jenewa. Namun siapa peduli Konvensi Jenewa di Papua?

Karena tempat-tempat sipil itu dijadikan pos militer, tidak heran dia kemudian menjadi ‘legitimate target’ dalam kontak senjata.

Paruh kedua laporan ini mencoba memberi jawaban tentang mengapa konflik meningkat itu. Laporan ini menelusuri pembuatan jalan dan penempatan pos-pos militer. Ternyata, dalam peta jelas terlihat bahwa jalan dan pos-pos militer itu mendekat pada satu hal: Kawasan pertambangan.

Dalam peta jelas ekali terlihat perusahan-perusahan yang bermain disana. Juga siapa-siapa yang terkait dalam kepemilikan saham-saham perusahan tersebut.

Baca Juga  Dinar Candy

Anda mungkin sudah tahu pertikaian Haris Ashar dan Fathia Maulidiyanti dengan Menteri Luhut Binsar Panjaitan? Mereka berdua diadukan ke polisi karena dianggap mencemarkan nama baik Luhut yang dituduh memiliki saham di perusahan-perusahaan tambang yang beroperasi di wilayah Pegunungan Tengah itu.

Namun dari penelusuran pembuatan jalan dan pos-pos militer, terlihat bahwa pengamanan itu tidak berhenti di empat perusahan yang ada Intan Jaya. Ternyata ia mengarah pada satu tempat: Blok Wabu, kawasan pertambangan yang dulu dimiliki oleh Freeport. Blok ini kabarnya mengandung cadangan emas senilai kira-kira 250 trilyun rupiah.

Siapa yang tidak ngiler dengan jumlah itu?

Di balik setiap perang, ada perebutan sumber daya. Tidak ada orang berperang untuk kesia-siaan. Bungkusnya mungkin nasionalisme, bendera, dan retorika berapi-api seperti harga mati. Tapi dibalik itu, selalu ada saudagar-saudagar dengan kotak kasir terbuka untuk menangguk keuntungan.

Baca Juga  Politik Mimikri

Lalu dimana letak orang Papua? Mereka selamanya tidak masuk dalam matriks kepentingan ekonomi. Benar bahwa TPNPB melakukan perlawanan. Namun perlawanan ini bisa dijustifikasi bukan? Kalau tanah Anda diambil isinya tanpa keuntungan apapun untuk Anda, apakah hanya akan menunggu dengan bodo-bodo di pinggir jalan? Lha wong rakyat Kendeng atau Wadas saja melawan ketika tanah mereka diambil.

Namun yang terjadi di Papua jauh lebih serius. Karena ini menyangkut masalah eksistensi sebagai sebuah bangsa — apakah mereka akan bisa bertahan atau musnah. (*)

Link laporan: Bara Konflik di Intan Jaya: Apa dan Siapa di Blok Wabu?

No More Posts Available.

No more pages to load.