Namun poin yang terpenting adalah dia tidak mendengarkan nasehat atau bimbingan dari orang-orang yang seharusnya menjadi penasehatnya. Bahkan, kalangan keluarga dekatnya juga tidak bisa menasehatinya. Bloomberg mengutip ujaran Prabowo dalam bahasa Indonesia ketika dinasehati, “Aku bukan begok!”
Artikel Bloomberg mengacu pada apa yang disebutnya sebagai lingkaran dalam yang menjadi sandaran Prabowo dalam membuat keputusan. Bloomberg mengindentifikasi lingkaran dalam lebih sebagai ekosistem di mana Prabowo mendapatkan masukan-masukan untuk berbagai kebijakan yang dia ambil.
Tentu saja, dari apa yang saya perhatikan selama ini, kebijakan-kebijakan ini bukan sesuatu yang koheren diperdebatkan sebelumnya. Ia lebih sebagai afirmasi atas kemauan dan ide-ide Prabowo.
Banyak sekali kebijakan Prabowo datang secara tiba-tiba. Ia muncul dan tanpa persiapan dan kajian yang matang. Bahkan tanpa “pilot project” yang memadai.
MBG, misalnya. Sekalipun ia adalah janji kampanye Prabowo, perencanaan dan cetak birunya hampir tidak pernah diperdebatkan di publik. Pembuatan SPPG, skema mitra, dan segala macam desain institusinya hanya dibatasi diketahui oleh orang-orang dekatnya. Sehingga, publik sudah mencium ketidakberesan dalam BGN sejak lama. Namun, Prabowo baru sadar setelah keadaan menjadi buruk dan 37 ribu anak-anak Indonesia keracunan!










