Mengenali tanpa Mengobati

oleh -34 views

Oleh: Yudi Latif, Pemikir Kebangsaan dan Kenegaraan

Saudaraku, masalah Indonesia bukanlah rahasia. Ia seperti noda di baju putih yang semua orang melihat dan menunjuk, tetapi tak seorang pun sudi mencucinya. Hampir setiap lidah fasih menuding kebobrokan karakter sebagai penghalang kemajuan, padahal telunjuk itu sendiri sering melekat pada tangan yang kotor.

Pendidikan karakter menuntut teladan, tetapi siapa yang pantas tampil pertama, saat cermin bersama telah retak, tak lagi mampu memantulkan wajah yang utuh?

Politik kita hanya menambah daftar ironi. Semua orang tahu demokrasi ini keropos, tetapi kesadaran itu berhenti sebagai dengusan pasrah di warung kopi, status getir di media sosial, atau basa-basi seminar.

Demokrasi ibarat kapal tua yang bocor; semua penumpang tahu air merembes, tetapi tak seorang pun bergegas menambal. Kita sibuk menunjuk lubang sambil berharap kapal tetap mengapung.

Baca Juga  Jelang Idulfitri, Harga Bumbu Dapur di Pasar Kota Maba Melambung Tinggi

Mengapa? Karena institusi yang mestinya menjadi rumah rakyat telah berubah menjadi rumah singgah segelintir pemodal, pesohor. Parlemen, partai, bahkan lembaga publik tak lagi mendengar suara warga, melainkan tunduk pada bisik-bisik eksklusif di balik layar.

Demokrasi yang mestinya orkestra rakyat menjelma sirkus: badut politik sibuk melucu, singa parlemen jinak di bawah cambuk uang, sementara rakyat sekadar penonton yang bertepuk getir.

No More Posts Available.

No more pages to load.