Mengenali tanpa Mengobati

oleh -133 views

Beginilah nasib bangsa yang pandai mengenali penyakit, tetapi malas mengobati. Kita tahu karakter bobrok, namun mencari teladan pada wajah yang sama kusamnya. Kita tahu demokrasi keropos, tetapi menyerahkan kunci rumah kepada pesakitan yang sama. Seperti pasien kanker yang lebih suka berfoto dengan riasan tebal ketimbang menempuh kemoterapi, kita memilih ilusi ketimbang terapi.

Dan di tengah kebuntuan ini, kita masih terhibur oleh fatamorgana: jargon moral di panggung kampanye, pidato tentang revolusi mental, baliho dengan senyum penuh wibawa. Padahal, karakter bangsa tidak lahir dari kata manis, melainkan dari keberanian menyingkap borok sendiri dan tekad memperbaikinya.

Selama kita bercermin pada kaca yang retak tanpa berani menambalnya, bangsa ini akan tetap berjalan pincang, mengulang drama lama dengan aktor baru yang memainkan lakon yang sama. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.