Oleh: KH. Aguk Irawan Mn, Pengasuh Ponpes Kreatif RUHI Yogyakarta
Trump, dalam wawancaranya dengan Financial Times—kembali blak-blakan. Ia tak butuh menutupi “tujuannya” dengan metafora. Kenapa menyerang Iran? Baginya, Iran tak lebih dari sebidang tanah minyak yang harus dikuasai, persis seperti skenario Venezuela: penjualan minyak diatur oleh Washington, dengan Pulau Kharg sebagai sasaran empuk.
Jadi perang ini, bukan lagi soal kegagalan diplomasi antar bangsa, apalagi atasnama “keselamatan” dunia dengan tatanan baru yang anti teroris dan nuklir sebagaimana yang disampaikan Trump, melainkan invasi gaya baru yang disamarkan dalam istilah “kepatuhan” dan “sanksi”.
Kita sering dituduh “kurang pintar” jika tidak melihat konspirasi global. Tapi dalam kasus ini, rasanya tidak perlu menjadi pintar untuk bisa memahami bahwa Timur Tengah bukan sekadar panggung konflik teologis. Sunni-Syiah hanyalah bumbu-bumbu, bahan bakar sampingan yang memantik emosi, sementara mesin utamanya adalah kerakusan geopolitik.
Anehnya tidak sedikit dari kita, masih ada yang “terperangkap” dalam perdebatan “sempit” Sunni-Syiah, sementara AS dan Israel terang-terangan merancang peta baru? Bukankah ini, seperti orang yang bertengkar bagaimana cara berwudhu yang afdhol dan sah, dengan air mengalir atau cukup dibasuh? Sementara tempat wudlunya sedang dihancurkan.









