Negeri di Ujung Nafas

oleh -12 views

Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis

Ada satu kalimat yang mendadak membuat ruang fiskal terasa seperti ruang ICU: survival mode. Ia bukan keluar dari mulut aktivis jalanan, bukan pula dari ekonom pinggiran yang gemar menabuh genderang krisis.

Ia justru diucapkan oleh Menteri Keuangan Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa —orang yang memegang dompet negara, sekaligus penjaga denyut nadi anggaran. Maka kalimat itu bukan sekadar retorika. Ia seperti alarm yang berbunyi bukan di telinga, tapi langsung di dada.

Namun, lucunya negeri ini seperti pasien yang dipuji dokter luar negeri: “Kondisinya stabil kok, bagus!” kata International Monetary Fund (IMF). Stabil? Di saat yang sama, di dalam negeri sendiri petingginya bicara soal bertahan hidup.

Ini seperti orang yang tersenyum di foto keluarga, padahal semalam belum makan. Atau seperti rumah yang dicat ulang di bagian depan, sementara fondasinya diam-diam retak dimakan rayap.

Baca Juga  PMD Halsel Beri Waktu Pj Kades Pulau Gala, Dinilai Abaikan Sikap Tegas Bupati

Di titik ini, kita perlu jujur: survival mode bukan berarti tinggal menunggu mati, tapi jelas bukan pula hidup nyaman.

Ia adalah fase ketika setiap kesalahan kecil bisa menjadi fatal. Ketika pemborosan bukan lagi sekadar kebodohan, tapi bentuk bunuh diri berjamaah. Ketika kebocoran anggaran bukan lagi “kecolongan”, tapi sabotase terhadap masa depan.

No More Posts Available.

No more pages to load.