Orkestra Batu dan Bayi

oleh -342 views

Oleh: Ady Amar, Kolumnis

“Sebelum engkau mengenal kebaikan sebagai sesuatu yang paling dalam di dalam dirimu,
engkau harus lebih dulu kehilangan banyak hal.” — Naomi Shihab Nye, penyair Palestina–Amerika.

Ada malam ketika suara bom terdengar seperti denting logam yang dipukul di ruang bawah tanah dunia. Tidak ada konduktor, tidak ada penonton, hanya batu-batu yang terangkat ke udara dan bayi-bayi yang menjerit di antara debu. Di langit Gaza, orkestra itu dimulai — bukan oleh musisi, tapi oleh pesawat tempur yang menulis partitur dengan rudal.

Setiap nada berasal dari kehancuran: gedung yang runtuh menjadi denting drum, jeritan ibu menjadi biola retak, dan teriakan seorang anak yang kehilangan ayahnya menjadi seruling yang patah. Dunia mendengarnya, tapi tetap duduk di kursinya, bertepuk tangan dengan hening.

Di distrik Al-Zeitoun, rumah sakit tua milik gereja Anglikan yang selama puluhan tahun merawat siapa pun tanpa menanyakan agama atau asal, kini tinggal reruntuhan. Di sana, para perawat yang masih hidup menutupi bayi-bayi dengan kain tipis yang berdebu, tubuh-tubuh mungil yang belum sempat mengenal nama Tuhan.

Baca Juga  Jelang Mubes IKA Unidar 2026, Panitia Audiensi dengan Rektor

Dan di luar dinding yang retak, sebuah tangan kecil masih menggenggam serpihan kaca seperti mainan — mungkin satu-satunya yang tersisa dari hidup yang baru dimulai.

No More Posts Available.

No more pages to load.