Pajeko Mambabi-buta, Nelayan Cakalang dan Tuna di Halsel “Suak”

oleh -1.194 views
Link Banner

Porostimur.com | Labuha: Akhir-akhir ini para nelayan ikan cakalang dan tuna mengeluh terkait dengan merajalelanya kapal-kapal pajeko yang membabi-buta di wilayah rumpon yang dipasang di laut dalam Halmahera Selatan, disebabkan kapal pajeko yang berasal dari Bitung dan Ambon masuk di wilayah perairan Kabupaten Halmahera Selatan yang diduga masuk tanpa memiliki Izin tangkap.

Oleh sebab itu, para nelayan ikan cakalang tuna menemui dan menyampaikan keluhan kepada Ompu Datuk Alolong/Jogugu Kesultanan Bacan.

Salah satu nelayan yang namanya tidak mau dipublish menyampaikan bahwa rumpon laut dalam yang seharusnya diperuntukan untuk nelayan cakalang dan tuna kini seperti beralih fungsi menjadi rumpon pajeko, yang menggunakan pukat harimau, yang tentunya dapat merusak benih-benih ikan sekaligus dapat membuat ikan cakalang dan tuna menjadi liar dan menghilang diwilayah sekitar rompun, karena ikan-ikan kecil makan cakalang dan tuna sudah dilibas habis oleh pajeko.

“Ikan cakalang suka baramaeng di wilayah rompong karena ada ikan-ikan kecil seperti momar dan lain-lain sebagai dong pe makanan, tapi mulai ada pajeko datang dan bapukat disitu tong juga so kurang tar lia cakalang baramaeng,” tuturnya

Dia juga menyampaikan bahwa saat ini para nelayan mengalami kesulitan dalam penangkapan ikan cakalang sebab tidak ada ikan cakalang lagi yang bermain di wilayah rompun laut dalam dan pendapat para nelayan pun menurun drastis. Ini dapat berdampak pada nelayan lain seperti  nelayan bagang, sebab jika kami tidak pergi amncing maka kita tidak membeli umpan di bagang, karena nelayan cakalang dan tuna saling membutuhkan dan saling ktergantungan dengan nelayan bagang.

Baca Juga  Koramil 1509-01/Bacan Gelar Kerja Bakti di Masjid Baiturrahman Desa Sawangakar Bersama Masyarakat

Armada kapal ikan kita yang diwilayah Maluku utara yang beroperasi di ini kurang lebih 100 armada  baik armada kapal bantuan pemerintah maupun armada kapal ikan swasta, dengan masing-masing armadamemiliki Anak Buah Kapal (ABK) 20 orang, jika dengan pendapatan saat ini yang kita dapat sungguh miris maka sangat tidak mungkin ABK ini akan bertahan dengan mata pencaharian ini, mereka bisa mencari mata pencaharian lain dan berhenti menjadi nelayan. Kalau ini terjadi bagiamana nasib kita.

“Tong penasib bagimana kalau tong pe ABK samua turung so taramau mangael, karna pendapatan kitorang yang kaya bagini, gara-gara Pajeko pe Karja, bagimana juga dengan Nasib Nelayan Bagang yang pe ketergatungan pa kitorang, Bolong lagi nelayan-nelayan pesisir yang mangael tuna mulai dari Indomut, Bajo, Sawanakar, Kaputusang, Belang-belang, Loloyjaya, Waya, Indong, Lele, sampe diwilayah Bacan Timur, dong mo makang apa kasiang?”, tuturnya dengan kesal

Baca Juga  Truk bermuatan bahan bangunan terprosok dalam selokan

Lanjut dia, Kami juga menduga masuknya Kapal-kapal Pajeko ini karna ada
kongkalikong antara oknum aparat, Pemilik Rompun dan pemilik Pajeko, sehingga Pajeko dengan bebas masuk diwilayah Halmahera Selatan tanpa pengawasan dari pihak-pihak terkait. Kami berharap Kesultanan Bacan dapat memfasilitasi kita untuk menyampaikan ini kepada pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan, apalagi Bupati ini sangat respon dengan keluhan-keluhan masyarakat, kami berharap Bupati bisa menertibkan dan memberikan sanksi kepada oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab ini,” tutupnya

Keluhan para nelayan ini mendapat respon dari Ompu Datuk Alolong/Jogugu Kesultanan Bacan, beliau menyampaikan bahwa ini tidak bisa dibiarkan, sebab mengakibatkan kelangkaan ikan dan bisa berdapak buruk pada masyarakat nelayan cakalang, Tuna dan Bagang. Bahkan, berdampak kepada masyarakat Halmahera Selatan terjadi kelangkaan ikan, ikan bisa Mahal dan bisa jadi tidak makan ikan. Wilayah Halmahera selatan ini tempatnya ikan, bagimana bisa kita tidak makan ikan, inikan lucu.

Baca Juga  KPK Disarankan Gandeng Auditor untuk Telusuri Aliran Dana Kartu Prakerja

Lanjut Ompu Datuk Alolong bahwa ada wilayah-wilayah yang sudah ditentukan untuk kapal-kapal yang alat tangkapnya seperti pajeko ini, tidak boleh Kapal-kapal ini masuk diwilayah rompun dalam, karna wilayah ini diperuntukan untuk Kapal Ikan Alat Pole Line atau Nelayan yang alat tangkapnya menggunakan Jorang (Ohati). Rompun juga mestinya harus memiliki Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP) dan Surat Izin Penangkapan (SIPI).

Dan Pihak kesultanan juga sesali jika ada Oknum-oknum aparat tertentu yang hanya
mementingkan kepentingan pribadi sehingga mengabaikan kepentikan khalayak.

Beliu juga sampaikan, kami akan bersama para nelayan akan berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Halmahera Selatan dan Pemerintah Provinsi Maluku Utara, sekaligus kami juga akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk menyelesaikan masalah yang tidak main-main iniBaca,” tutup Ompu Kesultanan Bacan. (adhy)

No More Posts Available.

No more pages to load.