Yenny melihat, banyak atlet muda yang sudah terlihat potensinya dan diyakini bisa beraksi di Paris 2024 mendatang. Selain Vedriq dan Kiromal, ada Rahmad Adi Mulyono dari Jawa Timur, yang baru saja memenangi IFSC Connected Speed Knockout pada 2 Agustus 2020.
“Adi itu usianya baru 19 tahun dan pada gelaran Olimpiade Paris 2024 dia masih bisa jauh itu (dalam berprestasi). Masih bisa ikut,” ujar Yenny.
Selain itu, ada juga atlet putri potensial bernama Desak Made Rita Kusuma Dewi dari Bali. Yenny menyebut, Rita masih bisa meraih prestasi lebih, termasuk mendapatkan medali di Olimpiade Paris 2024 kelak.
“Pada prakualifikasi, Rita angkanya nomor tiga. Kadang pas pertandingan agak enggak mujur, enggak bisa sampai atas. Tergelincir. Ini nasib. Tetapi, secara hitungan angka dia sudah dapat waktu. Sudah bisa memecahkan itu,” jelas Yenny.
3. Pekerjaan rumah Indonesia ada di lead dan boulder
Sementara itu, untuk nomor lead dan boulder, Yenny mengakui Indonesia masih lemah. Menurutnya, untuk menciptakan atlet dengan kemampuan di lead dan boulder dan dari sisi combined, perlu banyak faktor pendukung.
Yenny menyebut, untuk nomor lead dan boulder tidak sekadar bicara soal kecepatan dan kekuatan otot atlet. Dalam nomor ini juga dibutuhkan IQ yang cukup tinggi karena atlet harus bisa mengambil keputusan tepat dalam waktu singkat.




