Davos mungkin memberi tepuk tangan. Tapi Indonesia memberi ujian. Ujian itu sederhana: apakah pidato hanya untuk pemimpin dunia, atau juga untuk rakyat sendiri? Apakah keberanian hanya hidup di forum internasional, atau juga di meja kebijakan domestik?
Karena bangsa ini sudah terlalu sering melihat api pidato menyala tinggi, lalu padam ketika sampai ke lapangan. Terlalu sering mendengar kata “tegas”, lalu membaca kalimat lanjutan yang diawali dengan “namun”.
Mungkin benar, menumpas perampok itu tidak mudah. Tapi membiarkan mereka tetap beroperasi setelah dinyatakan melanggar, itu bukan strategi. Itu kontradiksi terang benderang. Paradoksnya paradoks.
Dan di tengah salju Davos yang putih bersih, sejarah akan mencatat satu hal: pidato bisa menghangatkan ruangan, tetapi hanya kebijakan konsisten yang bisa menghangatkan kepercayaan.
Jika tidak, maka setiap tepuk tangan dunia akan selalu kalah oleh satu suara rakyat di kolom komentar — pendek, lugas, dan menyakitkan: “Koplak.” (**)
Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 29/1/2026









