Namun saja pada sisi lain, cendikiawan, juga adalah kekuatan inti suatu bangsa, dalam menjemput kemajuan dan perubahan. Karena sebagai pengemban keilmuan, ilmu sendiri bukanlah status quo dan stagnan, ia selalu objektif, dinamis, adaptatif, dan responsif atas perubahan realitas yang ada.
Noam Chomsky dalam The Responsibility of Intellectuals (2017), juga mengungkapkan signifikannya peranan dan tanggung jawab cendikiawan sebagai tuas moralitas sosial dan kebenaran, agar tidak terkooptasi pada kepentingan politik kekuasaan, bahkan mengangkangi kemanusiaan secara universal. Tak mengherankan jika pepatah Arab menyebut ilmu adalah cahaya (‘al ilmu nurun’), ia adalah penerang dalam gelap.
Agar sebuah bangsa tak terperangkap dalam gulita abadi (jahiliyah). Makanya disebutkan derajat kelompok ilmuan (ulama), adalah lebih dekat dengan nabi, karena pada merekalah sesungguhnya penerus risalah. Inilah yang sedang berlangsung beberapa hari terakhir ini, betapa geliat cendikiawan secara kolektif, tengah memasuki gelanggang sirkuslasi elite, melalui narasi-narasi kritisnya tentang dekadennya sistem demokrasi yang tengah berlangsung, menandai sirkulasi elite nasional.
Heracletos (540 – 480 SM), filsuf Yunani kuno mengatakan, “nothing endures but change”– Tidak ada yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri. Perubahan itu mutlak. Pancta Rhei (semua mengalir)…










