Pada Februari 2022, Alqaeda di Semenanjung Arab (AQAP) menculik Anam dan empat orang lainnya saat mereka kembali ke kota pelabuhan Aden di selatan Yaman. Kala itu Anam dan empat orang terkait baru saja menjalankan misi lapangan untuk Departemen Keselamatan dan Keamanan PBB.
Konflik di Yaman telah berlangsung sejak 2014. Krisis di sana memburuk sejak koalisi pimpinan Arab Saudi melakukan operasi militer untuk mendukung pasukan pemerintah melawan milisi Houthi pada 2015. Sejak September 2014, Houthi telah berhasil merebut dan menguasai ibu kota Yaman, Sanaa. AQAP dan militan yang setia kepada kelompok ISIS berkembang pesat dalam kekacauan tersebut.
Pertempuran di Yaman menurun signifikan sejak PBB berhasil memediasi proses disepakatinya gencatan senjata selama enam bulan pada April 2022 lalu. Meski gencatan senjata telah berakhir pada Oktober tahun lalu, konfrontasi bersenjata di Yaman tak terlalu sengit lagi. Konflik Yaman diharapkan bisa segera diakhiri menyusul telah tercapainya rekonsiliasi antara Saudi dan Iran pada Maret 2023 lalu.
Dalam konflik Yaman, Saudi diketahui mendukung pasukan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional. Saudi berkeinginan menumpas Houthi karena kelompok tersebut dipandang sebagai ancaman terhadap keamanannya. Houthi memang cukup sering meluncurkan serangan udara, termasuk drone, ke wilayah Saudi. Selama ini Houthi memperoleh dukungan dari Iran.




