Oleh: Ady Amar, Kolumnis
Dalam setiap perang besar, perhatian dunia hampir selalu tersedot pada mereka yang berada di garis depan. Ledakan, korban, dan pernyataan politik yang saling bersahutan menjadi pusat narasi. Kita diajak percaya bahwa di sanalah sejarah sedang ditentukan.
Namun seperti diingatkan Ray Dalio—dalam kerangka panjang yang ia bentangkan dalam Principles for Dealing with the Changing World Order—sejarah jarang ditentukan oleh peristiwa yang paling bising.
Ia lebih sering bergerak melalui pergeseran yang tenang.
Dan dalam pergeseran tenang itulah, pemenang sesungguhnya sering kali muncul.
Pandangan itu kembali ia tegaskan dalam tulisan terbarunya di blog dan kanal publiknya, ketika ia membaca konflik Amerika–Israel vs Iran bukan sebagai krisis tunggal, melainkan bagian dari “perang dunia yang sedang berlangsung”—sebuah rangkaian konflik yang saling terhubung dalam bidang militer, ekonomi, teknologi, dan geopolitik.
Hari ini, ketika dunia memusatkan perhatian pada ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran—pada potensi eskalasi di Selat Hormuz, pada ancaman terganggunya jalur energi global—ada satu pertanyaan yang jarang diajukan dengan cukup jernih:
siapa yang sebenarnya diuntungkan dari semua ini?









