Pangeran Nuku dan Kesatria Sanga (Canga)

oleh -854 views

Oleh: Muhammmad Diadi, Penulis, Pelaku Budaya Galela

Di Galela masyarakat mengenal Sultan Nuku bukan sebagai Sultan atau Pangeran. Beliau dikenal sebagai Kapita Baikoleke. Hal ini sebagaimana dituturkan dalam tradisi lisan masyarakat.

Kenapa orang Galela menggambarkan Sultan Nuku sebagai Kapita Baikoleke (Baikole) karena beliau datang ke Galela memakai pakian berwarna hitam dan bersarau (tuala) berwarna putih serta diikuti oleh burung baikole yang terbang di atas kepalanya. Karenanya orang Galela mempercayai bahwa burung Baikole adalah burung sakral yang diistilahkan sebagai “Jin Maderu” yang berarti burung yang melayani Jin atau melayani orang yang kebal.

Sultan Nuku (1797-1805) adalah satu dari lima putra Sultan Muhammad Jamaluddin dari Tidore (1756-1780). Sekalipun nama resminya adalah Muhammad Amiruddin, namun pihak VOC dan Inggris dalam dokumen-dokumen resmi mereka, lebih banyak menggunakan nama panggilan sehari-harinya, yaitu Nuku.

Sejak meninggalkan Tidore 14 Juli 1780 untuk memulai suatu rangkaian perlawanan yang berlangsung sampai 1797, para pejabat VOC mencatat dalam berbagai laporan mereka, bahwa ia dikenal di antara para pengikutnya sebagai “Kaicili Paparangan” (pangeran perang) (Leirissa 1990:207).

No More Posts Available.

No more pages to load.