“Dan saya,” jawab Hatta, “akan memperbaiki institusi. Menegakkan hukum. Mengurangi ketimpangan.”
Soekarno tersenyum. “Kita tetap berbeda.”
“Tapi tujuannya sama,” kata Hatta.
“Selalu sama.”
Sejenak, keduanya terdiam.
“Menurutmu, Bung,” tanya Soekarno pelan, “apakah cita-cita kita gagal?”
Hatta tersenyum—tenang, rasional, namun hangat.
“Tidak. Cita-cita tidak pernah gagal. Yang ada hanya generasi yang belum selesai memperjuangkannya.”
Soekarno tertawa kecil, kali ini tanpa getir.
“Ah, kau ini… selalu realistis, tapi tetap memberi harapan.”
“Dan Bung,” balas Hatta, “selalu penuh harapan, meski dunia tidak selalu rasional.”
Ruang itu perlahan memudar. Meja kayu, dua kursi, dan percakapan yang tak pernah benar-benar selesai.
Di dunia nyata, Indonesia terus berjalan—di antara mimpi besar dan pekerjaan rumah yang belum usai, menunggu siapa yang berani menjembatani keduanya. (**)









