AS Tertekan, Stok Rudal Menipis
Di sisi lain, tekanan terhadap Amerika Serikat juga datang dari aspek logistik militer. Pengamat militer Rusia, Igor Korotchenko, menilai kemampuan militer konvensional AS tengah berada di titik kritis.
Ia menyoroti penggunaan intensif rudal jelajah Tomahawk yang dinilai menggerus cadangan strategis.
Dengan estimasi penggunaan sekitar 850 rudal per bulan, stok rudal tersebut disebut hanya cukup untuk beberapa bulan ke depan.
“Ini memang masalah yang sangat dirasakan oleh Amerika saat ini,” ujarnya.
Konflik Tanpa Kepastian
Korotchenko juga menilai konflik yang dijalankan AS saat ini berbeda dengan operasi militer sebelumnya di Yugoslavia dan Irak yang melibatkan koalisi besar negara-negara NATO.
Kali ini, menurutnya, operasi lebih banyak dijalankan secara mandiri, sehingga beban militer dan politik ditanggung lebih besar oleh Washington.
Eskalasi Timur Tengah Meningkat
Eskalasi konflik meningkat sejak serangan udara yang dilancarkan AS bersama Israel ke sejumlah target strategis di Iran, termasuk di Teheran.
Serangan tersebut memicu balasan dari Iran berupa serangan rudal dan drone yang menyasar wilayah Israel serta fasilitas militer AS di kawasan Teluk.
Kondisi ini mendorong AS memperkuat sistem pertahanan udara di Timur Tengah, termasuk dengan meminta dukungan alutsista dari negara sekutu.









