Pertemuan dan Perpisahan

oleh -405 views

Namun, 2 hari kemudian, keadaanku semakin parah. Malamnya setelah hari itu, Aku semakin lemas. Semangatku hilang. Tidak ada lagi.
Muncul gejala baru di tubuhku. Sesak nafas dan kehilangan indra perasa. Makanan seenak apapun itu yang Ibu buat tidak ada apa-apanya lagi sekarang. Hambar semua.

Akhirnya ibu memanggil petugas kesehatan untuk mengecek tubuhku. Yang kubisa hanyalah berdoa pada Tuhan, semoga apapun itu hasilnya, aku bisa sehat dan normal kembali.

Positif. Itu hasilnya.
Petugas kesehatan menyuruhku isolasi di rumah sakit karena keadaanku sudah buruk. Itu artinya aku harus meninggalkan ibu di rumah. Ibu tersenyum padaku Sebelum aku naik ke mobil.
“Ibu menunggumu sehat!” bisiknya pelan. Aku mengangguk. Aku pasti sehat. Pasti.

Baca Juga  Bayern Munich Kunci Gelar Bundesliga 2025/26 Usai Bungkam Stuttgart 4-2

Sesampainya disana aku ditujukan ke sebuah kamar. Kecil, namun itu lebih dari cukup. Ada sebuah ranjang, jendela dan laci meja kecil. Kutaruh koper berisi baju dan barangku di pojok, lalu berbaring di atas ranjang. Badanku masih pusing sekali. Ingin tidur sebentar.

Keesokan hari dan seterusnya aku mulai menjalani aktivitas di sana. Awalnya ku biasa saja. Minum obat, makan, tidur seperti biasa. Tapi 1 minggu kemudian aku baru merasa kesepian. Aku kangen Ibu.
Semalaman aku menangis. ingin sembuh, ingin peluk Ibu, ingin pulang ke rumah. Rasanya menderita sekali. Mataku bengkak akibat menangis.

No More Posts Available.

No more pages to load.