Esoknya, Aku mencoba pergi ke taman di rumah sakit. Semua pasien covid boleh berjalan jalan, menghirup udara segar, senam, olahraga dan lain lain disana. Tamannya cukup luas dan hijau. Ada beberapa pasien sedang mengobrol dengan pasien lainnya, ada yang sedang berlari pagi, ada juga yang sedang meneliti bunga-bunga disana. Terdengar aneh, tapi mau bagaimana lagi. Daripada mereka terkurung di kamar.
Ku mencoba duduk di salah 1 kursi taman, lalu mendengarkan musik dari earphoneku.
“Hm, hai! Boleh kenalan?” seseorang menepuk bahuku dengan pelan. Aku tersentak kaget, lalu melepas earphoneku. Seorang gadis.
“Eh, maaf. Aku sedikit kaget,” Jawabku. Ia mengangguk lalu tertawa,
“Zanira Thalia Wulandari, Panggil saja Zanira. kamu?”
“Hana,” balasku pendek. Aku mempersilahkan dia duduk.
Gadis yang bernama Zanira itu tampak seumuran denganku. Kulitnya sawo matang, matanya hitam, memakai kerudung ungu. Entah mengapa wajahnya sedikit bercahaya. Mungkin karena sinar matahari atau mungkin hanya perasaanku saja.
“Kamu dari kamar mana?” Zanira memulai percakapan.
“252,” Jawabku sambil menunjukan lantai kamarku. Dia ber-oh pelan. Zanira berada di kamar 344. Cukup jauh dari kamarku.
“Kenapa bisa disini?” tanya Zanira. Pertanyaan itu membuatku bingung. Tapi akhirnya ku mengerti. Kuceritakan awal mula ku kena penyakit ganas tersebut sampai ku berada di rumah sakit ini.











