Oleh: Ari Junaedi, Akademisi dan konsultan komunikasi
“Pemerintahan yang bersih harus dimulai dari atas. Seperti halnya orang mandi, guyuran air untuk membersihkan diri selalu dimulai dari kepala.” – Hoegeng Imam Santoso (1921-2004).
PERNYATAAN Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia periode 1968 – 1971 itu selalu relevan di setiap zaman.
Walau tidak dimakamkan di taman makam pahlawan, ke dua kakek saya dari pihak ayah maupun ibu adalah purnawirawan Polri.
Saat berdinas dulu, tergabung di kesatuan Mobil Brigade (sebelum dinamai Brigade Mobil atau Brimob). Kakek saya dari pihak ibu, masih bekerja sebagai sopir mobil pribadi usai pensiun di tahun 1970-an di Malang.
Sementara kakek saya dari pihak ayah, bekerja sebagai mandor penggilingan beras di Mojoagung, Jombang.
Kedua kakek saya harus terus bekerja karena kalau mengandalkan uang pensiunan dari pangkatnya yang rendah, tentu tidak bisa “hidup”.
Uang pensiun selalu habis pada awal bulan untuk membayar hutangan. Anak-anaknya tidak bisa menjadi polisi apalagi dengan katabelece.
Kisah epos kehebatan tentang polisi, saya saksikan ketika bocah di gedung bioskop dengan atap terbuka di Malang. Namannya Kelud.
Saya bisa menonton tanpa bayar alias gratis karena penjaga Kelud adalah ayah sahabat saya yang juga personel Polri.









