Politik Mesias Digital

oleh -33 views
Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis

Yang lebih menarik lagi, penolakan itu juga datang dari basis pendukung Trump sendiri. Delapan dari sepuluh pemilih Trump merasa gambar itu keterlaluan. Di titik inilah kita melihat bahwa rakyat Amerika, betapapun terkenal religius, ternyata masih memiliki batas psikologis terhadap eksploitasi simbol suci untuk narsisme politik.

Trump memang mencoba bermain di wilayah yang sangat tua dalam sejarah manusia: politik mesianistik. Dalam teori Max Weber, ada yang disebut “otoritas kharismatik”, yakni kekuasaan yang dibangun bukan semata hukum atau institusi, melainkan keyakinan massa bahwa seorang pemimpin memiliki kualitas luar biasa, bahkan nyaris transenden.

Hitler memakainya. Mussolini memakainya. Banyak penguasa modern memakainya. Bedanya, dahulu kultus dibangun lewat radio dan poster propaganda. Kini dibangun lewat meme, AI image, TikTok, dan Truth Social. Teknologi berubah, tetapi hasrat manusia untuk mencari “penyelamat” ternyata tetap awet seperti mi instan dalam gudang perang.

Baca Juga  Buka Bimtek Coretax, Wabup Halmahera Barat Tekankan Integritas Bendahara

Trump memahami betul psikologi itu. Ia tahu sebagian rakyat Amerika sedang mengalami kecemasan sosial: ekonomi tak stabil, perang berkepanjangan, polarisasi budaya, migrasi, perubahan identitas gender, dan ketakutan kehilangan dominasi global Amerika. Dalam situasi seperti itu, politik sering berubah menjadi agama sipil. Presiden tidak lagi dipandang sebagai administrator negara, tetapi sebagai figur penyelamat peradaban.

No More Posts Available.

No more pages to load.