Politik Mesias Digital

oleh -463 views

Sebab, bagi mereka, Paus tampil membawa agama sebagai suara moral universal, bukan sebagai alat glorifikasi kekuasaan. Ia berbicara tentang damai, bukan kehancuran nuklir. Tentang nurani, bukan ancaman kiamat geopolitik.

Dan di sinilah perbedaan mendasar itu terlihat. Trump menggunakan agama untuk memperbesar dirinya. Sedangkan Paus menggunakan agama untuk memperkecil ego kekuasaan. Yang satu memotret diri bersama “Yesus AI”. Yang satu justru mengingatkan dunia bahwa Injil bukan alat kampanye perang.

Amerika akhirnya tampak seperti laboratorium besar tentang masa depan agama modern. Di sana kita melihat dua arus bertabrakan. Satu arus menjadikan agama sebagai senjata identitas politik dan mesin populisme. Arus lain mencoba mempertahankan agama sebagai suara etika dan kemanusiaan universal.

Baca Juga  Lestarikan Warisan Kuliner, IAD Halmahera Selatan Gelar Pelatihan Membuat Papeda

Dan publik Amerika, setidaknya dari survei ini, tampaknya mulai lelah melihat Tuhan dijadikan buzzer politik. Barangkali rakyat Amerika mulai sadar: ketika politisi terlalu sering menyebut nama Tuhan, biasanya bukan karena mereka takut kepada Tuhan, melainkan karena mereka ingin rakyat takut kepada mereka.

Sejarah memang selalu lucu. Dulu para raja mengaku keturunan dewa. Kini para politisi membuat versi AI dirinya dipeluk Yesus. Bedanya cuma teknologi. Nafsu kekuasaannya tetap sama.

No More Posts Available.

No more pages to load.