Politik Mesias Digital

oleh -457 views

Karena itu Trump bukan sekadar menjual kebijakan. Ia menjual rasa “dipilih Tuhan”. Kalimatnya tentang “God might be playing his Trump card” bukan sekadar candaan receh politik. Itu bahasa teologis. Itu permainan simbol yang sengaja menyentuh alam bawah sadar religius masyarakat Amerika. Seolah-olah Tuhan sendiri sedang memasang kartu truf dalam perang kosmik melawan “iblis”, “monster”, dan “kaum radikal”. Politik berubah menjadi kisah Armageddon Netflix.

Tetapi justru di sinilah menariknya bangsa Amerika. Mereka religius, tetapi tidak seluruhnya mau agamanya dijadikan bensin mesin politik.

Hasil survei menunjukkan mayoritas Katolik, Protestan, bahkan non-Kristen, sama-sama menolak unggahan Trump yang mengancam Iran dengan narasi kehancuran “satu peradaban akan mati malam ini”. Sebanyak 76 persen menolak.

Baca Juga  Khalifah Muslim Ini Bagikan Harta Negara sampai Tak Ada Fakir Miskin

Bahkan ketika Menteri Pertahanan Pete Hegseth berdoa agar pasukan AS menimpakan “kekerasan luar biasa tanpa belas kasihan”, 69 persen rakyat Amerika bereaksi negatif.

Bayangkan ironi ini. Negara yang selama puluhan tahun dicap dunia Islam sebagai mesin perang global justru rakyatnya sendiri mulai muak dengan retorika perang religius. Mereka tampaknya mulai sadar bahwa ketika Tuhan terlalu sering dipinjam politisi, biasanya yang datang bukan surga, melainkan kuburan massal.

No More Posts Available.

No more pages to load.