Jumlah populasi yang signifikan ini adalah bukti dari kenyataan bahwa, setelah orang Moro menghilang pada pertengahan abad ke-17, jumlah populasi penduduk yang tersisa di Halmahera berkurang sangat drastis.
Ketika para pengikut Sultan Tabariji yang berada di Galela yang beragama Islam, sering menyerang perkampungan Moro begitu pula orang-orang Tobelo dan Tobaru, membuat Raja Tioliza mengambil tindakan pencegahan, seorang pedagang Portugis yang berada di Mamuya saat itu menasihati Raja Moro untuk beralih ke agama Kresten pada 1534, agar bisa mendapat perlindungan dari tentara Portugis.
Ketika Kerajaan Moro di bawah perlindungan Portugis, Sultan Tabariji sekali lagi memimpin orang-orang Galela yang beragama Islam untuk menyerang perkampuang Moro di Mamuya. Akibatnya banyak korban berjatuhan di pihak rakyat Moro.
Ketika misi penyerangan itu didengar oleh Gubernur Tristao de Ataide, Sultan Tabariji diturunkan secara paksa dari tahtanya atas penuduhan penghianatan serta penyerangan terhadap rakyat Moro yang baru saja memeluk agama Kristen serta diasingkan di Goa (India).
Gubernur Tristao de Ataide akhirnya mempererat hubungannya dengan Kerajaan Moro dan mendapat simpati dari Raja Moro berserta rakyatnya, hingga setiap misi Jesuit yang dilakukan oleh para misioner Portugis dibantu oleh kerajaan Moro berupa perahu, bahan makanan, hingga tenaga pendayung yang sering dikerahkan selama misi Jesuit di Ternate dan Moro.








